Bupati Morowali Iksan Baharuddin Abd. Rauf baru saja mendapatkan gelar kehormatan dari Keraton Surakarta, pada Sabtu (20/9) di Kota Solo, Jawa Tengah. Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T) Iksan Darmodipuro. Gelar ini tidak mudah didapatkan, penganugerahannya menjadi bukti atas pencapaian seseorang dalam bidang tertentu.
Secara harfiah, makna gelar Kanjeng, menandakan status kebangsawanan yang tinggi, gelar Raden merujuk pada gelar Kebangsawanan Jawa, sedangkan Tumenggung mengacu pada jabatan strategis tertentu, dan nama Darmodipuro dalam Bahasa Sansekerta bermakna: Benteng kebaikan.
Pemberian gelar ini merupakan hak prerogatif keraton setelah melewati proses usulan secara selektif dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti latar belakang keturunan, kemampuan, kepemimpinan, keahlian, serta prestasi dalam aspek sosial budaya. Siapa sebenarnya Kanjeng Raden Tumenggung Iksan Darmodipuro? Terlepas dari alasan utama keraton menyematkan gelar itu kepada Beliau, maka izinkan saya mengupas hal ini dari jejak dan latar belakang keturunan Beliau.
Dipertengahan tahun 1937, di akhir masa pemerintahan Peapua Abd. Razak, Bestuur Asisten Hasan Komendangi, mengumpulkan keterangan dan menyusun kembali silsilah keturunan bangsawan Kerajaan Bungku. Dokumen silsilah ini kemudian menjadi satu-satunya manuskrip tersisa yang menjadi dasar utama menelusuri garis keturunan bangsawan Kerajaan Bungku.
Jika dirunut, begini kira-kira jalur keturunan Raden Tumenggung Iksan Darmodipuro.
Raja Bungku di Lanona yaitu Peapua Lambodja menikah dengan Boki Fenggoduria. Memiliki empat orang anak, dalam tradisi kerajaan Bungku disebut Kaicil (pangeran), mereka adalah Kaicil Papa, Kaicil Dongke Kombe, Kaicil Saha dan Kaicil Sidarima. Jalan-jalannya cerita hidup, anak Lambodja Bernama Peapua Dongke Kombe diangkat menjadi raja Bungku menggantikan saudaranya Peapua Papa yang wafat tahun 1825. Namun tahun tahun 1840, Dongke Kombe memberontak terhadap Ternate. Dua tahun kemudian yakni di tahun 1842, Dongke kombe ditangkap oleh Sultan Muhammad Zain dan dijatuhi hukuman pengasingan seumur hidup di Kampung Gamkonora Ternate.
Peapua Dongke Kombe memiliki istri bernama Wabinahali. Mereka kemudian dikaruniai anak bernama Lainafa. Kaicil Lainafa punya dua istri yang bernama Wadirima dan Hatida. Dari Wadirima, lahirlah Peapua Laopeke yang dilantik menjadi Raja Bungku hari Selasa 1 Syaban 1301 H (28 Mei 1884) di Ternate. Kuburannya ada di belakang SMP 1 Bungku yang lama. Peapua Laopeke juga merupakan kakek dari Peapua Abd. Razak yang juga terlibat dalam penyusunan silsilah H. Komendangi dipertengahan tahun 1937.
Sedangkan dari istri Lainafa bernama Hatida, punya anak laki-laki bernama: Soesoepai. Kaicil Soeseopai kemudian dinikahkan dengan seorang mokole (raja) dari Ro’uta bernama Weboenga. Mereka kemudian punya anak laki-laki bernama Helere. Kaicil Helere kemudian dinikahkan dengan anak mokole lagi bernama Webone. Dan punya anak perempuan bernama: Wendoria. Wendoria kemudian dinikahkan dengan Mayor Lampese (anak keturuan Kaicil Sidarima) dan melahirkan anak laki-laki bernama: Abdul Hamid. Kaicil Abdul Hamid diangkat menjadi Djogugu (jabatan tinggi setelah raja) pada masa pemerintahan Peapua Abdul Wahab. Djogugu Abdul Hamid kemudian menikah dengan Saima dan punya 2 anak yakni: Abdul Gani (Djogugu Pinepeki) dan seorang perempuan bernama Lingga.
Ina Lingga inilah yang menjadi buyut Raden Iksan. Ina Lingga menikah dengan Apu Tendeli dan punya anak Bernama Abdul Ra’uf. Lalu Abdul Ra’uf kemudian menikah dengan Ina Monu dan melahirkan anak bernama H. Baharudin Rauf. Jalan jodoh kemudian mempertemukan Apu H. Baharudin Rauf dan Hj. Dzuhuria. Pasangan yang kelak melahirkan Raden Tumenggung Iksan Darmodipuro.
Jadi secara silsilah, Raden Iksan sebenarnya sudah bangsawan sebelum diberi gelar bangsawan. Tapi kembali lagi, gelar bangsawan bisa sirna. Sebab yang menentukan bukan darah, tapi karakter hati yang baik, lebih mulia dari gelar dan iman yang istiqomah jauh lebih berharga dari takhta. Itulah mengapa kata Ikhsan dalam Islam: dianggap tingkatan tertinggi ibadah setelah iman dan Islam.
Oh ya, di Morowali ada Lembaga Dewan Adat Tobungku. Namun tampaknya, arus Solo Surakarta lebih kencang dibanding Solono Baho Labota. Bagaimana mungkin Tumenggung lebih terdepan dibanding Toboengkoe?


Discussion about this post